Skip to main content

Anugerah Viktorindo Abadi

Kebakaran Desa Adat Sade Lombok, 89 Rumah Ludes dan Naskah Lontar Kuno Terbakar

Kebakaran Desa Adat Sade di Lombok Tengah menghanguskan puluhan rumah adat dan menyebabkan ratusan warga terdampak.

Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami kebakaran hebat pada Sabtu (22/8/2026) malam.

Kebakaran tersebut menghanguskan sebagian besar rumah warga di kawasan Desa Adat Sade yang mayoritas bangunannya terbuat dari bambu, kayu, bedek, dan beratapkan ilalang.

Desa Adat Sade merupakan salah satu destinasi wisata budaya di Lombok yang selama ini mempertahankan kehidupan dan tradisi masyarakat Suku Sasak secara turun-temurun.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 120 rumah terdampak, dengan 89 unit dilaporkan ludes terbakar. Kebakaran juga berdampak terhadap sekitar 320 jiwa atau 120 kepala keluarga (KK).

Tak hanya rumah dan harta benda, sejumlah warisan budaya berupa naskah lontar kuno hingga alat musik tradisional Gendang Beleq turut terdampak.

Berikut sejumlah fakta kebakaran Desa Adat Sade berdasarkan informasi sementara yang telah diperoleh.

Api Diduga Muncul dari Bangunan Dekat Masjid

Salah seorang warga Desa Adat Sade, Rohani (37), mengatakan kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 22.00 Wita.

“Sekitar jam 22.00 mulai api terus semakin membesar sampai kebakaran,” kata Rohani, Minggu (23/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

Berdasarkan keterangan sementara warga, api diduga pertama kali muncul dari sebuah bangunan yang berada di dekat masjid di tengah Desa Sade.

“Di atas itu pertama kali dekat masjid mungkin korsleting listrik atau apa enggak tahu, tapi pertama kali dekat masjid. Sempat dipadamkan pertama kali pakai air tapi tidak bisa, terlalu besar apinya akhirnya terbakar semua,” ujarnya.

Meski muncul dugaan korsleting listrik, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan.

Kepala BPBD Kabupaten Lombok Tengah Ridwan Maruf mengatakan penyebab kebakaran masih perlu diselidiki.

“Apakah itu akibat arus pendek listrik atau faktor lain,” katanya, Minggu, dilansir dari Antara.

Warga Panik Selamatkan Diri

Saat kobaran api semakin membesar, warga panik dan berusaha menyelamatkan diri menuju jalan.

Besarnya api membuat sebagian warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

“Ini barang-barang pakaian tidak sempat selamat, semua hancur. Hangus kain tenun semua hangus. Belum tahu kerugian banyak,” kata Rohani.

Selain pakaian dan barang rumah tangga, kain tenun khas masyarakat setempat turut hangus dalam kebakaran.

Sebanyak 120 Rumah dan 320 Jiwa Terdampak

Api akhirnya berhasil dipadamkan pada Minggu (23/8/2026) pagi.

Berdasarkan data sementara yang disampaikan BPBD Kabupaten Lombok Tengah, jumlah rumah yang terdampak kebakaran mencapai 120 unit.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan jumlah warga yang terdampak mencapai sekitar 320 jiwa atau 120 KK.

Keterangan serupa disampaikan Kepala Desa Rembitan Lalu Winakse. Ia menyebut terdapat 120 KK yang terdampak.

Dari keseluruhan bangunan tersebut, sebanyak 89 unit dilaporkan ludes, sementara sisanya mengalami dampak kebakaran yang lebih ringan.

“Untuk bangunan yang terbakar itu sebanyak 89 unit yang ludes dan sisanya kebakaran ringan,” ujarnya, dilansir dari Antara.

Data jumlah rumah maupun warga terdampak masih bersifat sementara dan dapat diperbarui setelah proses pendataan selesai.

Tidak Ada Korban Jiwa

Meski kebakaran menimbulkan kerusakan besar, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memastikan sejauh ini tidak terdapat korban jiwa.

“Yang penting sekarang enggak ada korban, teman-teman dari Polres, Kadus, Kades saya tanya sejauh ini enggak ada korban,” katanya, Minggu, dilansir dari Kompas.com.

Pemerintah daerah selanjutnya akan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat terpenuhi.

Kebutuhan tersebut meliputi sandang, pangan, serta tempat yang aman bagi keluarga yang rumahnya terdampak.

Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Bupati Lombok Tengah dan pihak terkait untuk menyusun langkah penanganan sekaligus rencana pemulihan dan rekonstruksi Desa Adat Sade.

Naskah Lontar Kuno Ikut Hangus

Dampak kebakaran tidak hanya berupa kerugian terhadap bangunan dan harta benda.

Sejumlah naskah lontar kuno yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Desa Adat Sade juga ikut terbakar.

Beberapa warga menemukan sisa naskah lontar yang telah hangus setelah kebakaran.

Salah satunya merupakan naskah lontar Rengganis.

“Ini naskah lontar Rengganis,” kata Jemain, salah seorang warga Desa Adat Sade, Minggu, dilansir dari Kompas.com.

Naskah Digunakan dalam Berbagai Acara Adat

Naskah-naskah lontar tersebut selama ini disimpan oleh warga dan biasa dibacakan ketika berlangsung berbagai acara adat.

Naskah digunakan dalam kegiatan seperti perkawinan, tradisi ngurisan atau potong rambut bayi, hingga sunatan.

Namun, sejumlah naskah kini rusak setelah dilalap api.

“Sudah rusak semua,” ujar Jemain.

Warga lainnya, Marwan, mengatakan naskah lontar banyak disimpan di rumah-rumah warga Desa Adat Sade dan dibacakan ketika berlangsung acara adat.

Sebagian naskah kuno yang berhasil diselamatkan kemudian diamankan di rumah kepala dusun.

“Naskah kuno dari nenek moyang kita,” ungkap Marwan.

Selain naskah lontar, Gendang Beleq, alat musik tradisional masyarakat Sasak, juga ikut terbakar.

Kerusakan benda-benda tersebut membuat dampak kebakaran tidak hanya menyangkut kerugian material, tetapi juga menyentuh warisan budaya masyarakat Suku Sasak.

Ternyata Sudah Tujuh Kali Terjadi Kebakaran

Kebakaran pada Sabtu malam tersebut ternyata bukan kejadian pertama yang dialami Desa Adat Sade.

Talip, warga setempat, mengatakan desanya sudah beberapa kali mengalami kebakaran.

Namun, enam kebakaran sebelumnya disebut masih dalam skala yang dapat ditangani warga.

“Jadi ini bukan pertama kali terjadi ya tapi sudah ketujuh kali. Enam kali hampir tapi itu masih bisa kami atasi. Namun yang ketujuh kali sangat berakibat fatal karena apa satu kebakar kemudian tidak bisa dilerai kemudian semuanya ludes,” kata Talip, dilansir dari Kompas.com.

Menurutnya, kebakaran ketujuh tersebut menjadi yang paling parah.

“Bukan rusak parah tetapi itu habis dilalap api, ludes jadi tidak ada yang tersisa, baik tiang penyangga maupun hampir sampai pondasinya juga habis,” tandasnya.

Warga Mengungsi ke Rumah Kerabat

Setelah rumah mereka terbakar, sejumlah warga Desa Adat Sade mengungsi sementara ke rumah kerabat yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan warga langsung mencari tempat aman di rumah keluarga ketika kebakaran berlangsung.

“Masyarakat tadi malam sudah lari ke keluarganya dan itu tidak jauh di wilayah sekitarnya ini,” kata Pathul, Minggu, dilansir dari Kompas.com.

Menurutnya, hubungan kekeluargaan masyarakat setempat membuat warga dapat tinggal sementara bersama kerabat.

“Karena ini rumah adat memang dari dulu maka isinya juga milik keluarga kami yang ada di sekitar,” tambahnya.

Untuk membantu warga terdampak, pemerintah daerah telah mendirikan dapur umum dan pos kesehatan.

Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah pemulihan setelah kebakaran, termasuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi serta menyusun rencana rekonstruksi kawasan.

Kebakaran kali ini menjadi salah satu kejadian paling serius yang pernah dialami Desa Adat Sade. Selain menghanguskan puluhan rumah dan harta benda, api turut merusak sejumlah peninggalan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sasak.

SUMBER

Kompas.com

Konsultasi & Penyesuaian Sistem

Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.

Artikel Pilihan & Insight Terbaru

Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.