Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyiagakan tim kesehatan di Pulau Sebesi menyusul debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mulai terbawa angin hingga mencapai permukiman warga.
Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai respons awal pemerintah daerah untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
“Tentu ini sangat menjadi perhatian kami selaku Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Terkait kesehatan masyarakat itu menjadi prioritas kami,” kata Egi, Selasa (18/8/2026).
Tim kesehatan di puskesmas setempat telah diminta memantau kondisi masyarakat, terutama warga yang mulai terdampak debu vulkanik.
“Keberadaan tim kesehatan di puskesmas setempat adalah langkah kami sebagai respons awal. Tim di sana akan memantau kesehatan masyarakat yang terdampak debu vulkanik,” ujarnya.
Selain menyiagakan tim kesehatan, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan terus berkoordinasi dengan petugas pos pengamatan untuk mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi dampaknya terhadap masyarakat.
Pemerintah daerah ingin memastikan warga tetap mendapatkan pemantauan serta penanganan apabila mengalami keluhan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
“Kami ingin memastikan masyarakat tetap mendapatkan pemantauan dan penanganan apabila ada keluhan kesehatan akibat debu vulkanik. Pemerintah daerah akan terus mengikuti perkembangan aktivitas Anak Krakatau,” kata Egi.
Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir.
Candra, warga Pulau Sebesi, mengatakan debu vulkanik mulai terasa lebih banyak pada Senin (17/8/2026) sore.
Abu berwarna hitam terlihat kembali menempel di halaman rumah warga meskipun sebelumnya telah dibersihkan.
“Kalau angin selatan, naik ke sini. Tadi disapu, disapu lagi sudah hitam lagi,” kata Candra.
Meski belum merasakan gangguan pernapasan, sejumlah warga mulai menggunakan masker ketika berada di luar rumah.
Masyarakat juga mulai mengurangi aktivitas di luar rumah sebagai langkah antisipasi, terutama bagi anak-anak dan warga yang sedang dalam kondisi kurang sehat.
“Kalau parah memang bisa ada gangguan pernapasan. Yang dikhawatirkan anak-anak kecil, balita, begitu juga orang dewasa,” ujarnya.
Meski belum merasakan gangguan pernapasan, sejumlah warga mulai menggunakan masker ketika berada di luar rumah.
Masyarakat juga mulai mengurangi aktivitas di luar rumah sebagai langkah antisipasi, terutama bagi anak-anak dan warga yang sedang dalam kondisi kurang sehat.
“Kalau parah memang bisa ada gangguan pernapasan. Yang dikhawatirkan anak-anak kecil, balita, begitu juga orang dewasa,” ujarnya.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi mengatakan sebaran abu sangat dipengaruhi arah dan kecepatan angin.
Apabila arah angin bergerak menuju Pulau Sebesi, material abu dari erupsi Anak Krakatau dapat terbawa hingga mencapai kawasan permukiman.
“Abu vulkanik yang sampai ke wilayah warga sangat dipengaruhi arah angin. Kalau arah anginnya menuju Sebesi, material abu bisa terbawa ke wilayah tersebut,” kata Andi.
Ia mengimbau warga menggunakan masker apabila intensitas abu mulai meningkat.
Warga juga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama anak-anak serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.
“Kalau abu mulai banyak, masyarakat sebaiknya menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta terus mengikuti informasi resmi dari PVMBG serta tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Gunung Anak Krakatau Erupsi 28 Kali dalam Dua Hari
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tergolong tinggi.
Sejak Minggu hingga Senin tercatat terjadi sebanyak 28 kali erupsi.
Erupsi tersebut menghasilkan semburan abu vulkanik dengan ketinggian bervariasi, mulai sekitar 400 meter hingga 557 meter di atas permukaan laut.
Pada Senin (17/8/2026) hingga pukul 12.44 WIB, sedikitnya tercatat 11 kali erupsi.
Salah satu erupsi yang terjadi pada pukul 12.44 WIB menghasilkan kolom abu berwarna kelabu hingga hitam setinggi sekitar 400 meter.
Kolom abu tersebut memiliki intensitas tebal dan bergerak ke arah laut.
Tingginya aktivitas vulkanik tersebut membuat masyarakat di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau diminta terus mengikuti perkembangan informasi dari otoritas terkait.
Di tengah tingginya aktivitas erupsi, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pengunjung, pendaki, maupun nelayan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Pembatasan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko masyarakat terdampak aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan aktivitas gunung.
“Kami terus melakukan pemantauan. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG,” kata Andi.
Meningkatnya paparan abu di Pulau Sebesi membuat penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dianjurkan bagi warga.
Terutama ketika abu vulkanik mulai terlihat semakin tebal, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah untuk meminimalkan paparan.
Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak, balita, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu yang berpotensi lebih rentan terhadap paparan abu vulkanik.
Sementara itu, tim kesehatan yang disiagakan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan akan terus memantau kondisi warga dan memberikan penanganan apabila ditemukan keluhan kesehatan.
Pemerintah daerah bersama petugas pemantauan juga terus mengikuti perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mengantisipasi perubahan aktivitas dan dampaknya terhadap masyarakat.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.