Skip to main content

Anugerah Viktorindo Abadi

Pesawat Listrik Terbesar di Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Listrik Cuma Rp88 Ribu

Pesawat listrik X1 buatan Heart Aerospace menyelesaikan penerbangan perdana selama 27 menit di New York, Amerika Serikat.

Pesawat listrik bertenaga baterai terbesar di dunia yang diberi nama X1 resmi menyelesaikan penerbangan perdananya di New York, Amerika Serikat (AS), pada Rabu (12/8/2026).

Penerbangan perdana tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam pengembangan teknologi pesawat listrik berbasis baterai menuju penerbangan komersial.

X1 lepas landas dari Bandara Internasional Plattsburgh dan mengudara selama sekitar 27 menit.

Dalam penerbangan tersebut, pesawat berhasil mencapai ketinggian sekitar 335 meter di atas permukaan tanah.

Keberhasilan penerbangan perdana X1 menjadi langkah awal untuk menguji kemampuan pesawat listrik berukuran besar sekaligus mengembangkan teknologi yang nantinya ditargetkan dapat digunakan untuk mengangkut penumpang.

Biaya Listrik Penerbangan X1 Diklaim Cuma Rp88 Ribu

Dikutip dari IFL Science, startup asal Swedia Heart Aerospace yang mengembangkan X1 mengklaim seluruh perjalanan dalam penerbangan perdana tersebut ditenagai sepenuhnya oleh baterai.

Menariknya, biaya listrik yang digunakan selama penerbangan diklaim hanya sekitar US$5 atau Rp88 ribu.

“Dengan penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah mendemonstrasikan penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial,” kata CEO Heart Aerospace Anders Forslund dalam pernyataannya pada Kamis (13/8/2026).

Forslund mengatakan teknologi pesawat listrik memiliki potensi untuk menekan biaya perjalanan udara bagi penumpang.

Menurutnya, penggunaan tenaga listrik dapat mengubah aspek ekonomi industri penerbangan secara fundamental.

Pesawat Listrik Diharapkan Tekan Emisi Karbon

Pengembangan pesawat listrik juga dinilai berpotensi membantu mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan yang selama ini berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Selain persoalan lingkungan, faktor biaya menjadi salah satu daya tarik utama penggunaan tenaga listrik di sektor penerbangan.

Hal tersebut semakin menjadi perhatian di tengah kenaikan harga bahan bakar yang turut dipengaruhi oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah.

“Ini adalah visi kami untuk membuat perjalanan udara lebih terjangkau, lebih sering, dan lebih ramah lingkungan,” tambah Forslund.

Jika teknologi tersebut dapat dikembangkan hingga skala komersial, pesawat listrik berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk penerbangan jarak tertentu pada masa mendatang.

Spesifikasi Pesawat Listrik X1

Secara spesifikasi, X1 memiliki bentang sayap sepanjang 32,3 meter.

Pesawat tersebut juga mampu menopang berat maksimum sekitar 11.339 kilogram ketika lepas landas.

Namun, X1 bukan pesawat yang nantinya langsung digunakan untuk membawa penumpang secara komersial.

Pesawat tersebut merupakan model eksperimental yang dikembangkan Heart Aerospace untuk menyempurnakan teknologi pesawat ES-30.

ES-30 merupakan model berukuran lebih besar yang ditargetkan menjadi produk komersial perusahaan.

Heart Aerospace menargetkan pesawat tersebut dapat digunakan untuk mengangkut penumpang pada 2031 mendatang.

Sementara itu, ES-30 saat ini sedang dikembangkan di Los Angeles untuk persiapan menuju uji terbang perdana yang dijadwalkan berlangsung pada 2028.

Air Canada dan United Airlines Dukung ES-30

Pengembangan pesawat listrik ES-30 turut mendapatkan dukungan dari sejumlah perusahaan penerbangan besar.

Dua di antaranya adalah Air Canada dan United Airlines.

Kedua maskapai tersebut disebut telah menyatakan bahwa ES-30 akan bergabung dengan armada komersial mereka apabila pesawat berhasil memperoleh izin dan sertifikasi untuk beroperasi.

Keterlibatan maskapai besar menjadi salah satu dukungan penting bagi Heart Aerospace dalam membawa teknologi pesawat listrik dari tahap pengembangan menuju penggunaan komersial.

Air Canada Soroti Transisi Energi Penerbangan

Chief Sustainability Officer Air Canada John Di Bert mengatakan transisi energi dalam industri penerbangan membutuhkan berbagai pendekatan.

Upaya tersebut tidak hanya mengandalkan satu teknologi, tetapi mencakup peningkatan efisiensi operasional, penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, hingga pengembangan teknologi pesawat baru.

“Transisi energi untuk penerbangan akan membutuhkan berbagai upaya, mulai dari efisiensi operasional, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dan pengembangan teknologi pesawat baru,” kata John Di Bert dari Air Canada.

Pengembangan pesawat listrik seperti ES-30 menjadi salah satu teknologi baru yang diharapkan dapat mendukung transformasi tersebut.

United Airlines Lihat Potensi Pesawat Listrik Komersial

Sementara itu, CFO United Airlines Michael Leskinen menilai pesawat listrik memiliki potensi nyata untuk diterapkan dalam penerbangan komersial.

Menurutnya, teknologi tersebut tidak hanya berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga meningkatkan pengalaman perjalanan penumpang sekaligus memperkuat bisnis maskapai.

“Pesawat komersial listrik memiliki potensi nyata untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang sekaligus memperkuat bisnis kami,” kata Michael Leskinen dari United Airlines.

Dukungan Air Canada dan United Airlines semakin memperkuat rencana Heart Aerospace untuk membawa teknologi yang diuji melalui X1 menuju ES-30.

Keberhasilan penerbangan perdana X1 selama 27 menit menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan tersebut.

Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, teknologi yang diuji pada X1 nantinya akan menjadi dasar bagi ES-30 sebelum pesawat tersebut ditargetkan memasuki layanan komersial pada 2031.

SUMBER

CNN Indonesia

Konsultasi & Penyesuaian Sistem

Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.

Artikel Pilihan & Insight Terbaru

Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.