Presiden sekaligus salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, memperingatkan meningkatnya ancaman keamanan siber seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Brockman meminta perusahaan untuk segera memperkuat sistem keamanan mereka guna menghadapi potensi serangan siber yang didukung teknologi AI.
Menurutnya, perkembangan kemampuan AI tidak hanya memberikan manfaat bagi pengguna dan perusahaan, tetapi juga berpotensi mengubah cara pelaku kejahatan siber menjalankan serangan.
Insiden yang melibatkan platform pengembang AI Hugging Face menjadi salah satu contoh yang disoroti Brockman mengenai perubahan besar dalam lanskap keamanan siber.
Brockman mengatakan dirinya telah berbicara dengan sejumlah organisasi dalam beberapa minggu terakhir.
Dari pembicaraan tersebut, ia melihat perusahaan perlu meningkatkan praktik keamanan siber secara fundamental dengan jauh lebih cepat.
“Saya telah berbicara dengan banyak organisasi selama beberapa minggu terakhir, dan satu tema terlihat jelas: mereka tahu bahwa mereka perlu meningkatkan praktik keamanan siber fundamental dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Brockman dalam blog pribadinya, dikutip dari Business Insider, Selasa (18/8/2026).
Peringatan tersebut muncul setelah OpenAI mengungkap pada Juli lalu bahwa agen AI miliknya mampu keluar dari lingkungan pengujian dalam sebuah tes internal.
Sistem tersebut kemudian berhasil menyusupi Hugging Face, platform yang banyak digunakan pengembang untuk menerbitkan, membagikan, dan mengunduh model AI.
Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana kemampuan AI yang semakin berkembang dapat membawa tantangan baru terhadap sistem keamanan digital.
Menurut Brockman, kejadian tersebut menjadi contoh nyata bagaimana AI dapat digunakan untuk menemukan celah keamanan dalam suatu sistem dengan cepat.
Ia memperkirakan kemampuan AI untuk mendeteksi kerentanan akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi.
Namun, kemampuan tersebut memiliki dua sisi.
Di satu sisi, AI dapat membantu perusahaan mengidentifikasi dan memperbaiki kelemahan sistem dengan lebih cepat.
Di sisi lain, teknologi yang sama berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk mencari kerentanan sebelum perusahaan berhasil memperbaikinya.
“AI juga akan membuat jauh lebih mudah untuk memperbaiki celah keamanan guna mencegah serangan,” tulis Brockman.
Kondisi tersebut membuat kecepatan dalam menemukan sekaligus memperbaiki kerentanan menjadi semakin penting dalam strategi keamanan perusahaan.
Brockman menilai insiden OpenAI-Hugging Face menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk meningkatkan pertahanan siber.
Ia bahkan membagikan daftar 10 langkah yang menurutnya perlu segera dilakukan perusahaan sebagai pihak yang bertahan menghadapi potensi serangan siber.
“Waktu sangatlah penting, dan para defender perlu menjalankan langkah-langkah di bawah ini dengan kecepatan turbo,” tulisnya.
Menurut Brockman, perusahaan tidak lagi dapat hanya mengandalkan pendekatan keamanan siber konvensional ketika kemampuan AI berkembang semakin cepat.
Pertahanan digital perlu berkembang mengikuti kemampuan teknologi yang berpotensi digunakan oleh pihak penyerang.
Brockman menilai organisasi perlu mulai mengotomatisasi program keamanan mereka secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, penerapan otomatisasi tersebut tetap harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan.
Langkah ini diperlukan agar kemampuan pihak yang bertahan dapat berkembang setidaknya secepat kemampuan pelaku serangan dalam memanfaatkan AI.
“Dalam beberapa bulan mendatang, setiap organisasi perlu mulai mengotomatisasi program keamanan mereka secara signifikan agar tetap aman, dan komunitas keamanan harus segera bangkit untuk menentukan perangkat, praktik, dan playbook yang akan meningkatkan kekuatan para defender lebih cepat daripada para attacker seiring AI terus berkembang,” jelas Brockman.
Dengan perkembangan AI yang semakin pesat, perusahaan dinilai perlu memperlakukan keamanan siber sebagai salah satu prioritas utama.
AI dapat menjadi alat yang membantu menemukan dan menutup kerentanan secara lebih cepat. Namun, kemampuan serupa juga berpotensi digunakan untuk mempercepat pencarian celah oleh pihak yang melakukan serangan.
Karena itu, peningkatan sistem pertahanan, otomatisasi keamanan, serta kemampuan merespons kerentanan dengan cepat menjadi semakin penting ketika teknologi AI terus berkembang.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.