Virus Shamonda menjadi sorotan setelah otoritas kesehatan Prancis melaporkan kasus infeksi pertama pada manusia pada Kamis (22/10/2026).
Mengutip European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) pada Jumat (23/10/2026), pasien yang diduga terjangkit virus tersebut sebelumnya menjalani perawatan akibat penyakit serius. Ia meninggal dunia pada awal Oktober 2026.
Penyelidikan terhadap penyebab kematiannya masih berlangsung. Otoritas perlu memastikan apakah pasien benar-benar terinfeksi virus Shamonda atau tidak.
Lantas, apa itu virus Shamonda, bagaimana cara penularannya, dan apa saja gejala yang perlu diketahui?
Virus Shamonda atau Shamonda virus (SHAV) adalah virus yang sebelumnya diketahui menginfeksi hewan, terutama sapi.
Virus ini termasuk dalam genus Orthobunyavirus, yaitu kelompok virus yang dapat ditularkan melalui gigitan serangga.
Sebelum kasus di Prancis, infeksi virus Shamonda pada manusia belum pernah terjadi dan dilaporkan.
Virus ini umumnya telah terdeteksi pada hewan ternak di sejumlah negara, seperti Austria, Belgia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, dan Liechtenstein. Temuan tersebut tercatat di Eropa pada musim panas 2026.
Mengutip The Standard pada Jumat (23/10/2026), virus Shamonda juga dapat menginfeksi hewan ternak lain, seperti domba dan kambing.
Meski begitu, risiko penularan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Virus Shamonda pada umumnya menyebar lewat gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides.
Serangga ini dikenal sebagai biting midges, yakni serangga berukuran sangat kecil, sekitar satu hingga tiga milimeter, sehingga sulit dilihat dengan mata telanjang. Hewan ini menularkan virus saat menggigit inangnya.
Menurut ECDC, cara penularan pada kasus manusia di Prancis masih diselidiki. Salah satu dugaan yang sedang ditelusuri adalah penularan melalui gigitan serangga tersebut.
Sejauh ini belum ada bukti penularan berkelanjutan antarmanusia. Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung menganggap virus ini menyebar lewat kontak sehari-hari.
Gejala infeksi virus Shamonda pada manusia belum diketahui secara menyeluruh. Baru satu kasus yang tercatat, sehingga masih dibutuhkan penelitian untuk memastikan gejalanya.
Pada kasus di Prancis, pasien mengalami komplikasi otak sebelum meninggal. Berdasarkan hasil penyelidikan awal otoritas kesehatan setempat, komplikasi tersebut dinilai sangat mungkin berkaitan dengan infeksi virus Shamonda.
Namun, hubungan itu masih perlu ditelaah lebih lanjut. Pasien dikabarkan memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh yang berat, sehingga lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasinya.
Sementara itu, pada hewan, infeksi virus Shamonda dapat menimbulkan demam, diare, dan penurunan produksi susu pada sapi perah.
Dr Ben Brennan, pemimpin kelompok riset sekaligus dosen senior di MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research, menyatakan bahwa temuan ini penting secara ilmiah, tetapi perlu dipahami secara menyeluruh.
“Menemukan virus pada pasien dengan gangguan kekebalan tubuh yang berat tidak serta-merta berarti virus tersebut menimbulkan risiko signifikan bagi orang yang sehat,” ujarnya.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada bukti bahwa virus Shamonda menyebabkan penyakit pada manusia secara luas.
ECDC juga menyatakan tengah bekerja sama dengan otoritas Prancis dan mitra di Eropa untuk menyelidiki dampak kasus ini terhadap kesehatan masyarakat.
Informasi mengenai virus Shamonda pun masih terus berkembang. Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan dari otoritas kesehatan resmi dan tidak menyimpulkan risiko penularan hanya berdasarkan satu kasus yang dilaporkan.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.