Skip to main content

Anugerah Viktorindo Abadi

Benarkah Cincin Api Pasifik Sedang Sangat Aktif? Ini Penjelasan Ahli

Ilustrasi peta Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) yang menjadi jalur utama aktivitas gempa bumi dan gunung api

Rentetan gempa bumi berkekuatan besar yang terjadi di sejumlah wilayah Pasifik dalam satu bulan terakhir memunculkan pertanyaan mengenai aktivitas Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Fenomena tersebut menjadi sorotan setelah beberapa gempa kuat mengguncang kawasan yang berada di jalur tektonik aktif.

Salah satu gempa terbesar dalam periode tersebut berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Filipina pada 8 Juni lalu. Gempa itu bahkan memicu peringatan tsunami di wilayah Minahasa-Manado, Indonesia.

Selain Filipina, aktivitas gempa juga terjadi di wilayah Indonesia bagian utara. Salah satu yang terbesar adalah gempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Torue, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah akibat aktivitas subduksi.

Ahli: Aktivitas Gempa Masih dalam Batas Normal

Dalam kurun satu bulan terakhir, sejumlah gempa berkekuatan menengah hingga besar juga tercatat terjadi di Filipina, Jepang, Papua Nugini, dan Kepulauan Sangihe.

Ketua Ahli Kebencanaan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa rangkaian gempa tersebut belum menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang tidak biasa di kawasan Cincin Api Pasifik.

Menurutnya, data dari United States Geological Survey (USGS) mencatat seluruh gempa yang terjadi, termasuk gempa kecil yang tidak dirasakan manusia. Dari sekitar 500.000 gempa bumi yang terjadi setiap tahun, sekitar 450.000 di antaranya berhasil direkam oleh instrumen seismik.

Daryono menjelaskan bahwa sekitar 90 persen gempa bumi di dunia memang terjadi di sepanjang jalur Cincin Api Pasifik. Dengan rata-rata sekitar 1.200 gempa setiap hari, kemunculan beberapa gempa besar dalam waktu berdekatan masih tergolong sebagai fenomena alam yang normal.

Ia menambahkan, kesan bahwa aktivitas Cincin Api Pasifik meningkat muncul akibat efek clustering, yaitu beberapa gempa besar terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan sehingga lebih mudah menarik perhatian publik.

Secara global, gempa berkekuatan magnitudo 7,0 atau lebih rata-rata terjadi sekitar 15 kali setiap tahun, sedangkan gempa bermagnitudo 6,0 atau lebih mencapai sekitar 130 kali per tahun.

Menurut Daryono, fluktuasi jumlah gempa dalam skala bulanan merupakan bagian dari proses alami pelepasan energi bumi dan bukan menjadi indikator adanya peningkatan aktivitas tektonik yang tidak normal.

Apakah Rentetan Gempa Berdampak bagi Indonesia?

Daryono menegaskan bahwa meskipun Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, rangkaian gempa yang terjadi belakangan ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap kondisi di Indonesia.

Ia menjelaskan, selama tidak terjadi peningkatan aktivitas yang bersifat anomali di kawasan Cincin Api Pasifik, tidak ada ancaman luar biasa yang perlu dikhawatirkan selain potensi bencana yang memang menjadi karakteristik geografis Indonesia.

Menurutnya, Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, yakni Lempeng Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia. Karena masing-masing sistem lempeng bekerja secara mandiri, gempa yang terjadi di wilayah lain seperti Jepang, Venezuela, maupun California tidak akan memicu gempa di Indonesia.

Hal yang perlu terus diwaspadai adalah aktivitas pelepasan energi pada zona-zona gempa regional maupun lokal di Indonesia yang memang berlangsung secara alami.

Penguatan Mitigasi Menjadi Prioritas

Daryono menilai langkah paling penting bagi Indonesia adalah memperkuat mitigasi bencana daripada menaruh kekhawatiran berlebihan terhadap isu meningkatnya aktivitas Cincin Api Pasifik.

Dari sisi struktural, ia menekankan pentingnya penerapan standar bangunan tahan gempa pada infrastruktur vital, fasilitas publik, dan kawasan permukiman. Selain itu, sistem peringatan dini tsunami harus terus dipelihara agar selalu siap digunakan.

Sementara dari sisi non-struktural, edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi perlu dilakukan secara berkala, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa.

Menurut Daryono, peningkatan pengetahuan mengenai prosedur keselamatan akan membantu masyarakat memiliki kesiapan mental serta mampu mengambil tindakan yang tepat ketika terjadi gempa bumi.

SUMBER

CNN Indonesia

Konsultasi & Penyesuaian Sistem

Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.

Artikel Pilihan & Insight Terbaru

Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.