Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kebakaran yang terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jalurwulung bukan merupakan fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Risiko kebakaran di TPA memang cenderung meningkat saat memasuki musim kemarau, terutama pada lokasi pembuangan sampah terbuka.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, mengatakan kebakaran di TPA merupakan kejadian yang hampir selalu berulang setiap musim kemarau.
Menurut Wahyu, kondisi musim kemarau membuat material sampah menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar dibandingkan saat musim hujan.
Semakin panjang musim kemarau berlangsung, semakin besar pula potensi terjadinya kebakaran di kawasan TPA.
Meski musim kemarau saat ini belum berlangsung terlalu lama, potensi munculnya titik api tetap harus diwaspadai karena kondisi cuaca mulai mendukung terjadinya kebakaran.
Secara ilmiah, kebakaran hanya dapat terjadi apabila tiga unsur utama terpenuhi, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber penyalaan.
Di kawasan TPA, bahan bakar berasal dari tumpukan sampah kering serta gas metana hasil pembusukan, sedangkan oksigen tersedia secara alami di udara.
Karena dua unsur tersebut sudah tersedia dalam jumlah melimpah, upaya pencegahan harus difokuskan pada pengendalian sumber penyalaan.
Sumber api dapat berasal dari berbagai aktivitas, mulai dari pembakaran sampah di sekitar TPA hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Memasuki musim kemarau, pengelola maupun pemerintah daerah diminta meningkatkan pengawasan terhadap TPA, khususnya yang masih menerapkan sistem open dumping.
Seluruh potensi penyebab munculnya api harus dicegah sedini mungkin agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar.
Namun menurut Wahyu, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan di kawasan TPA. Sistem pengelolaan sampah sejak dari sumbernya juga perlu diperbaiki.
BRIN menilai idealnya sampah yang masuk ke TPA hanyalah sampah residu, yaitu sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan maupun didaur ulang.
Semakin sedikit material yang mudah terbakar masuk ke fasilitas pemrosesan akhir, maka semakin kecil pula risiko terjadinya kebakaran.
Pembangunan fasilitas waste to energy juga dinilai perlu dibarengi dengan sistem pemilahan sampah sejak awal agar proses pengolahan menjadi lebih efektif sekaligus mengurangi beban TPA.
Selain pembenahan sistem pengelolaan sampah, penerapan teknologi dinilai mampu meningkatkan upaya pencegahan kebakaran.
Beberapa teknologi yang direkomendasikan meliputi kamera pemantau, drone termal, sensor gas, pemantauan suhu timbunan sampah, pengelolaan gas landfill, hingga sistem peringatan dini yang memanfaatkan data kondisi cuaca dan timbunan sampah.
Dengan deteksi dini yang lebih baik, potensi munculnya titik api dapat diketahui lebih cepat sehingga penanganan bisa segera dilakukan.
Wahyu menegaskan bahwa setiap pengelola TPA perlu mengenali risiko kebakaran sejak awal melalui perbaikan operasional, pemantauan hotspot, pengawasan sumber penyalaan, serta peningkatan kesiapsiagaan selama musim kemarau.
Pemerintah daerah juga didorong memiliki strategi jangka panjang untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA.
Upaya seperti pengurangan sampah sejak sumbernya, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, serta pemanfaatan fraksi bernilai ekonomi perlu terus diperkuat.
Dengan semakin sedikit sampah campuran yang dibuang ke TPA, fasilitas pemrosesan akhir diharapkan hanya menerima sampah residu sehingga pengelolaannya menjadi lebih aman, lebih terkendali, dan risiko kebakaran dapat ditekan secara signifikan.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.