Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Berau mengimbau masyarakat yang berada di wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Mindanao, Filipina.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tsunami yang dapat berdampak ke sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
Meski kondisi perairan di Berau hingga Senin pagi dilaporkan masih normal dan belum menunjukkan perubahan signifikan, BMKG meminta masyarakat untuk sementara menjauhi kawasan pantai.
Warga juga diimbau tetap tenang dan terus memantau informasi resmi yang dikeluarkan BMKG hingga peringatan dini tsunami benar-benar dicabut.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan informasi dari BMKG Pusat terkait gempa tektonik yang terjadi di Mindanao.
Menurutnya, koordinasi dan pembaruan informasi dilakukan secara berkala guna memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan terbaru.
BMKG Berau juga telah menyampaikan informasi terkait potensi dampak gempa tersebut kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi.
Mulai dari media sosial, grup WhatsApp, hingga kanal informasi resmi lainnya digunakan untuk memastikan peringatan dapat diterima dengan cepat oleh masyarakat pesisir.
“Kami memperhatikan dan terus meng-update informasi dari BMKG Pusat terkait perkembangan kejadian gempa di Mindanao, Filipina,” ujar Ade Heryadi.
Berdasarkan pembaruan peringatan dini yang diterbitkan BMKG, wilayah pesisir Berau termasuk dalam area yang berstatus waspada tsunami.
Karena itu, masyarakat diminta untuk sementara waktu menghindari aktivitas di kawasan pantai maupun tepian sungai hingga ada informasi lanjutan dari otoritas terkait.
BMKG menegaskan bahwa arahan utama yang diberikan kepada masyarakat adalah menjauhi area pesisir sebagai langkah pencegahan.
Menurut Ade, potensi dampak tsunami terhadap wilayah pesisir Berau membuat kewaspadaan perlu ditingkatkan meskipun kondisi perairan masih terlihat normal.
Meski sempat masuk dalam wilayah waspada tsunami, hingga waktu yang diperkirakan menjadi kedatangan gelombang tsunami berlalu, tidak ditemukan perubahan signifikan pada kondisi laut di Berau.
Laporan yang diterima dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga menunjukkan kondisi perairan masih dalam keadaan normal.
Tidak ada tanda-tanda surut atau kenaikan muka air laut yang mengkhawatirkan.
Ade Heryadi menjelaskan bahwa perkiraan waktu kedatangan gelombang tsunami di wilayah Berau telah terlewati tanpa adanya gangguan berarti.
Meski demikian, BMKG belum mencabut imbauan kewaspadaan dan masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan informasi resmi yang diperbarui secara berkala.
BMKG Berau menegaskan masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan hingga ada pengumuman resmi terkait pencabutan status peringatan dini tsunami.
Beberapa kawasan pesisir yang menjadi perhatian antara lain:
Menurut Ade, seluruh wilayah pesisir Berau yang menghadap Laut Sulawesi masuk dalam area yang perlu meningkatkan kewaspadaan.
Meski demikian, hasil pemantauan di lapangan hingga saat ini belum menunjukkan adanya anomali muka air laut.
Kondisi perairan di sejumlah kawasan pesisir, termasuk Biduk-Biduk dan wilayah sekitarnya, masih dilaporkan normal.
Selain potensi tsunami, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Mindanao juga dilaporkan sempat dirasakan oleh sejumlah warga di Kabupaten Berau.
Laporan yang diterima BMKG menyebut getaran terasa di beberapa wilayah, terutama di Pulau Maratua.
Tidak hanya warga, petugas menara pengawas lalu lintas udara di Bandara Kalimarau juga melaporkan merasakan getaran saat gempa terjadi.
“Setelah kejadian gempa magnitudo 7,7 itu ada beberapa tempat yang merasakan getaran, seperti di Maratua. Kemudian di Berau sendiri, termasuk petugas di tower bandara juga merasakan getaran saat kejadian gempa tersebut,” jelas Ade.
Meski getaran sempat dirasakan di sejumlah lokasi, hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut di Kabupaten Berau.
Sebelumnya, BMKG melaporkan gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina.
Hasil analisis BMKG menunjukkan pusat gempa berada pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur atau sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara.
Gempa terjadi pada kedalaman 47 kilometer dan termasuk kategori gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami sehingga peringatan dini sempat diterbitkan untuk sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
BMKG menetapkan Kabupaten Berau sebagai salah satu wilayah dengan status Waspada Tsunami pascagempa besar tersebut.
Selain Berau, status serupa juga diberlakukan untuk beberapa daerah lain seperti Kutai Timur, Kota Bontang, Bulungan, Tarakan, dan Nunukan.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah berstatus waspada untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan pantai maupun tepian sungai.
Warga juga diminta terus memantau perkembangan informasi resmi yang disampaikan pemerintah daerah dan BMKG guna menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
BMKG menegaskan seluruh perkembangan terkait potensi tsunami akan terus diperbarui melalui kanal resmi hingga status peringatan dini dinyatakan berakhir.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.