Skip to main content

Anugerah Viktorindo Abadi

Gempa M 7,7 Flores Tewaskan 103 Orang, Kondisi Geologi Disebut Perkuat Guncangan

Gempa M 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan 103 orang meninggal dunia dan ribuan warga terdampak.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) meninggalkan duka mendalam.

Hingga Selasa (25/8/2026) petang, sebanyak 103 orang dilaporkan meninggal dunia dan 1.666 lainnya mengalami luka-luka akibat gempa tersebut.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengungkapkan, kondisi geologi di sekitar episentrum menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat guncangan gempa bermagnitudo 7,7 tersebut.

Wilayah yang berada paling dekat dengan pusat gempa memiliki kondisi morfologi yang beragam, mulai dari dataran, daerah bergelombang, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan.

Menurut Lana, wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier dan batuan sedimen berumur Kuarter.

Kondisi Geologi Bisa Memperkuat Guncangan Gempa

Kondisi geologi di sekitar pusat gempa menjadi salah satu faktor penting untuk memahami kuatnya guncangan yang dirasakan masyarakat di permukaan.

“Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi,” ujar Lana dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).

Artinya, tingkat guncangan yang dirasakan pada suatu wilayah tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan dan jarak dari sumber gempa.

Karakteristik batuan dan tanah di permukaan juga dapat memengaruhi seberapa kuat getaran dirasakan.

Tanah Lunak Berpotensi Membuat Guncangan Lebih Intens

Berdasarkan data tapak lokal Vs30, Lana menjelaskan bahwa wilayah di sekitar episentrum gempa dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas tanah.

Klasifikasi tersebut meliputi kelas C, kelas D, dan kelas E.

Kelas C terdiri atas tanah sangat padat atau batuan lunak. Kelas D merupakan tanah sedang, sedangkan kelas E merupakan tanah lunak.

“Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menjelaskan kuatnya guncangan di sejumlah kawasan yang berada di sekitar pusat gempa.

Gempa Dipicu Mekanisme Sesar Naik

Selain kondisi geologi permukaan, Badan Geologi juga mencatat bahwa gempa tersebut memiliki mekanisme sumber berupa sesar naik.

Lana mengatakan mekanisme tersebut berasosiasi dengan zona sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Zona tersebut merupakan salah satu struktur tektonik penting di kawasan Nusa Tenggara.

Wilayah yang berasosiasi dengan zona tersebut disebut memiliki tingkat kerawanan bencana gempa bumi menengah hingga tinggi.

Keberadaan Flores Back Arc Thrust membuat aktivitas tektonik di kawasan Flores dan sekitarnya menjadi salah satu aspek yang terus mendapat perhatian dalam kajian kebencanaan.

Lokasi dan Kedalaman Gempa M 7,7 Flores

pada pukul 05.58.23 Wita.

Episentrum gempa berada di koordinat 8,33 derajat Lintang Selatan (LS) dan 121,32 derajat Bujur Timur (BT).

Lokasi pusat gempa berada di timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 15 kilometer.

Kedalaman yang relatif dangkal serta kondisi geologi di sejumlah wilayah sekitar episentrum menjadi faktor penting dalam memahami besarnya dampak guncangan yang terjadi.

103 Orang Meninggal dan 1.666 Luka-luka

Gempa M 7,7 tersebut menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat Flores dan wilayah sekitarnya.

Hingga 25 Agustus 2026 petang, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 103 orang.

Sementara itu, sebanyak 1.666 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Selain korban jiwa dan luka, gempa juga berdampak terhadap permukiman dan menyebabkan warga di sejumlah kawasan harus menghadapi kerusakan akibat guncangan.

Data mengenai dampak gempa masih dapat berkembang seiring berlangsungnya pendataan dan penanganan di wilayah terdampak.

Badan Geologi menekankan bahwa karakteristik tanah dan batuan perlu menjadi perhatian dalam memahami tingkat kerusakan akibat gempa.

Kondisi batuan yang telah mengalami pelapukan maupun keberadaan lapisan sedimen di permukaan dapat memperkuat getaran yang sampai ke permukaan.

Gempa Flores tersebut sekaligus kembali menunjukkan tingginya aktivitas tektonik di kawasan Nusa Tenggara, khususnya wilayah yang berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust.

SUMBER

Kompas.com

Konsultasi & Penyesuaian Sistem

Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.

Artikel Pilihan & Insight Terbaru

Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.