Semburan lumpur panas Lapindo yang terjadi sejak 2006 meninggalkan dampak besar bagi Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan kini berubah drastis, dengan banyak kawasan yang tampak sepi dan kehilangan denyut kehidupan seperti masa lalu.
Bencana yang terjadi hampir dua dekade lalu tidak hanya menenggelamkan permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi yang menjadi penopang utama masyarakat setempat.
Dampak semburan lumpur panas tidak hanya dirasakan oleh warga yang kehilangan rumah, tetapi juga pelaku usaha yang bergantung pada ramainya aktivitas perdagangan di Porong.
Sejumlah kawasan yang dahulu menjadi pusat keramaian kini tampak jauh lebih lengang dibandingkan sebelum bencana terjadi.
Perubahan paling mencolok terlihat di sepanjang Jalan Raya Porong yang dulu dipenuhi pertokoan, pedagang kaki lima, hingga rumah makan yang beroperasi hampir 24 jam.
Kini, banyak toko tutup dan bangunan kosong terlihat di sepanjang jalan tersebut.
Lumpuhnya aktivitas ekonomi dipicu terganggunya akses jalan utama akibat luapan lumpur yang merendam sejumlah wilayah seperti Porong, Jabon, dan Tanggulangin.
Akibatnya, ribuan warga terpaksa pindah dan pusat-pusat keramaian perlahan menghilang.
Meski kondisi ekonomi terus menurun, masih ada beberapa pedagang yang memilih bertahan.
Salah satunya adalah Toko Cendrawasih milik Rio, toko sepatu dan sandal yang menjadi salah satu dari sedikit usaha yang masih beroperasi di kawasan Jalan Raya Porong lama.
Menurut Rio, sebelum bencana terjadi kawasan tersebut sangat ramai hingga malam hari.
“Dulu sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam melayani pembeli. Sekarang banyak yang tutup karena sudah tidak ada pembeli,” ujarnya.
Rio mengungkapkan jumlah pengunjung ke pusat perdagangan Porong menurun drastis sejak semburan lumpur muncul.
Banyak pedagang akhirnya memilih gulung tikar karena terus mengalami kerugian.
Ia menggambarkan kondisi Porong saat ini seperti kota mati, terutama pada malam hari.
Meski masih terdapat beberapa toko material bangunan dan toko pakaian yang bertahan, aktivitas perdagangan jauh berbeda dibandingkan sebelum bencana terjadi.
Keluhan serupa juga dirasakan Iswan Christanto, pemilik toko bahan bangunan di kawasan Porong lama.
Ia mengaku omzet usahanya terus mengalami penurunan sejak kawasan tersebut kehilangan pusat keramaiannya.
Menurut Iswan, banyak pelaku usaha yang akhirnya menutup tokonya karena tidak lagi mampu bertahan menghadapi minimnya pembeli.
“Pembeli sekarang jauh berkurang. Banyak pengusaha yang dulu buka toko di sini akhirnya tutup karena tidak kuat menanggung kerugian,” katanya.
Iswan menilai dampak lumpur Lapindo tidak hanya menghentikan aktivitas perdagangan, tetapi juga memukul perekonomian masyarakat secara luas.
Selain menenggelamkan ribuan rumah warga, bencana tersebut juga merusak lahan pertanian dan menyebabkan nilai tanah maupun properti di wilayah terdampak merosot tajam.
“Dulu Porong menjadi pusat ekonomi masyarakat. Sekarang banyak usaha tutup gara-gara dampak lumpur,” tambahnya.
Dampak ekonomi akibat semburan lumpur Lapindo juga dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor wisata.
Salah satunya adalah Ula Muaniasa, pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo.
Menurut Ula, jumlah wisatawan yang datang saat ini jauh lebih sedikit dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Jika dahulu ia bisa memperoleh penghasilan hingga Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per hari, kini rata-rata hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per hari.
Bahkan, tidak jarang ia pulang tanpa mendapatkan penghasilan sama sekali.
“Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu sehari. Sekarang rata-rata cuma sekitar Rp50 ribu sampai Rp80 ribu,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ula mengaku harus mencari pekerjaan tambahan di luar sektor wisata.
Kondisi yang sama juga dialami Mustofa, pengemudi ojek wisata di kawasan Lumpur Lapindo.
Ia menyebut penurunan pendapatan mulai terasa sejak pandemi COVID-19 dan terus berlanjut hingga sekarang.
Menurut Mustofa, penghasilan para pemandu wisata dan tukang ojek yang dahulu bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari kini turun drastis.
Meski masih ada wisatawan yang datang, jumlahnya tidak seramai dulu.
Sebagian besar pengunjung juga memilih berkeliling sendiri tanpa menggunakan jasa pemandu maupun transportasi wisata lokal.
“Kalau ada rombongan memang pengunjung bertambah, tapi belum tentu mereka mau naik ojek atau pakai jasa pemandu,” ujarnya.
Hampir dua dekade setelah semburan lumpur pertama kali terjadi, dampaknya masih dirasakan oleh masyarakat Porong dan sekitarnya.
Tidak hanya mengubah bentang wilayah dan memaksa ribuan warga meninggalkan tempat tinggal mereka, lumpur Lapindo juga mengubah struktur ekonomi kawasan yang dulu menjadi pusat perdagangan penting di Sidoarjo bagian selatan.
Meski aktivitas kehidupan perlahan berjalan kembali, banyak warga mengaku kondisi ekonomi belum pernah benar-benar pulih seperti sebelum bencana terjadi.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.