Kecelakaan kereta api antara KA jarak jauh dan KRL di Stasiun Bekasi Timur menimbulkan korban jiwa. Sebanyak 7 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari detikcom, insiden tersebut terjadi pada Senin (27/4/2026) malam sekitar pukul 20.50 WIB. Peristiwa kecelakaan terjadi tepat di area Stasiun Bekasi Timur.
Hingga saat ini, sejumlah fakta terkait kejadian tersebut mulai terungkap seiring proses penanganan di lokasi.
Kecelakaan terjadi saat KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Benturan yang terjadi dilaporkan sangat keras hingga menyebabkan rangkaian kereta jarak jauh menembus bagian belakang gerbong KRL.
Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, KA Argo Bromo awalnya melaju tanpa hambatan. Namun, dalam hitungan detik, tabrakan keras tak terhindarkan.
Dalam rekaman tersebut terlihat jelas bagaimana kereta menabrak KRL yang sedang berhenti di stasiun. Dampaknya, bagian belakang gerbong KRL mengalami kerusakan parah akibat benturan tersebut.
Gerbong yang mengalami kerusakan paling parah diketahui merupakan gerbong khusus wanita yang berada di bagian paling belakang rangkaian KRL.
Seorang penumpang bernama Andi menjadi salah satu korban selamat dalam insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa gerbong yang tertabrak merupakan posisi paling belakang, sehingga menerima dampak benturan paling besar.
“Yang tertabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu,” ujar Andi (42) di Stasiun Bekasi Timur, seperti dikutip dari Antara.
Kepanikan sempat melanda para penumpang saat kecelakaan terjadi. Beberapa penumpang bahkan terpaksa memecahkan kaca gerbong untuk menyelamatkan diri setelah terjebak di dalam kereta.
Salah satu penumpang selamat, Rendi Pangestu, mengaku baru saja pulang bekerja dan menaiki KRL dari arah Manggarai menuju Jakarta Selatan. Ia mengatakan bahwa benturan terjadi secara tiba-tiba dan membuat penumpang terpental.
“Saya sempat berbincang dengan penumpang lain, baru beberapa saat kemudian tiba-tiba terjadi benturan keras. Rasanya sangat kuat, apalagi posisi saya berada di gerbong bagian belakang,” ujar Rendi, Senin (27/4).
Sebelum kecelakaan terjadi, dilaporkan adanya insiden taksi yang terhenti di lintasan rel kereta. Berdasarkan informasi dari akun TMC Polda Metro Jaya, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 20.50 WIB, Senin (27/4).
Kendaraan tersebut berhenti di tengah jalur rel, sehingga menyebabkan KRL yang melintas harus menghentikan laju dan berhenti di lokasi tersebut.
Di saat bersamaan, KRL lain juga sempat tertahan di area Stasiun Bekasi Timur akibat insiden tersebut. Namun, tidak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melintas dan menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti.
Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan parah, terutama pada gerbong bagian belakang, termasuk gerbong khusus wanita.
Pihak Green SM Indonesia turut memberikan pernyataan terkait insiden tersebut. Mereka menyatakan siap bersikap kooperatif dalam proses penelusuran penyebab kecelakaan yang melibatkan KA jarak jauh dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Menurut Green SM, dugaan awal kecelakaan berkaitan dengan insiden taksi yang terhenti di jalur rel sebelum tabrakan terjadi.
“Green SM Indonesia memberikan perhatian penuh terhadap kejadian di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 yang melibatkan kendaraan kami dan kereta yang melintas,” tulis perusahaan melalui akun Instagram resminya, @id.greensm.
Mereka juga menegaskan telah menyampaikan informasi yang diperlukan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa hasil identifikasi sementara menunjukkan kecelakaan diduga dipicu oleh insiden taksi yang terhenti di jalur rel dan tertemper KRL di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur.
Kejadian tersebut diduga menyebabkan gangguan pada jalur, yang kemudian berujung pada tabrakan antar kereta.
“Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 21.00 WIB dan bermula dari adanya kendaraan yang tertemper di perlintasan. Hal itu kami duga sempat mengganggu operasional di area emplasemen Bekasi Timur,” ujar Bobby.
Meski demikian, pihak KAI masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan tersebut.
“Kami menyerahkan proses investigasi secara detail kepada KNKT untuk mengungkap penyebab kejadian ini secara menyeluruh,” tambahnya.
Proses evakuasi korban dilakukan oleh tim Basarnas sejak Senin (27/4) malam hingga Selasa (28/4) pagi. Upaya ini dilakukan karena masih terdapat korban yang terjepit di dalam rangkaian kereta pascakecelakaan.
Kepala Basarnas, M. Syafii, menjelaskan bahwa beberapa korban masih ditemukan dalam kondisi hidup, namun terjebak di antara material logam gerbong.
“Masih ada korban yang ditemukan dalam kondisi hidup, tetapi terjepit. Kami berupaya memisahkan bagian logam yang menghimpit agar korban bisa segera dievakuasi,” ujarnya.
Untuk mempercepat proses penyelamatan, petugas terpaksa melakukan pemotongan pada bagian gerbong yang rusak. Evakuasi dilakukan secara intensif sepanjang malam hingga pagi hari guna memastikan seluruh korban dapat dievakuasi dengan aman.
Hingga Selasa pagi sekitar pukul 06.34 WIB, jumlah korban dalam kecelakaan kereta di Bekasi Timur tercatat sebanyak 7 orang meninggal dunia. Sementara itu, 81 orang lainnya mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.
“Jumlah korban yang meninggal dunia sebanyak tujuh orang, sementara 81 lainnya mengalami luka-luka dan sedang dirawat,” ujar Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin.
Sebanyak tiga korban yang sempat terjepit di dalam gerbong KRL berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat pada Selasa (28/4) pagi.
“Barusan tiga korban berhasil dievakuasi dan langsung diserahkan kepada tim medis,” ujar Kepala Basarnas, Mayjen TNI M. Syafii, di lokasi kejadian.
Meski demikian, pihak Basarnas masih terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban lain yang masih terjebak di dalam rangkaian kereta.
Syafii menegaskan bahwa proses evakuasi dan pencarian akan terus dilakukan hingga seluruh korban dipastikan telah ditemukan.
Hingga saat ini, proses penanganan dan investigasi kecelakaan masih terus berlangsung. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Insiden ini menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak terkait keselamatan transportasi, khususnya di jalur kereta api yang padat aktivitas.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.