Anugerah Viktorindo Abadi

Hujan Tiga Hari Tanpa Henti, Puluhan Titik Bencana Terjadi di Bali

Denpasar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sedikitnya 76 titik bencana akibat cuaca ekstrem yang melanda Pulau Dewata. Hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah selama tiga hari berturut-turut dan hampir tanpa henti sejak Minggu (22/2).

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menjelaskan bahwa puluhan titik bencana tersebut terdiri dari berbagai kejadian, mulai dari banjir hingga tanah longsor.

Alarm Peringatan Banjir di Tukad Badung Berbunyi

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Bali dalam beberapa hari terakhir menyebabkan debit air di Tukad Badung meningkat signifikan. Alarm Early Warning System (EWS) di kawasan tersebut dilaporkan berbunyi dan menunjukkan status Level 2 Siaga pada Selasa dini hari.

Ketinggian air di sekitar wilayah terdampak tercatat mencapai kurang lebih 116 sentimeter. Warga dan para pedagang diminta untuk tetap waspada serta siap melakukan evakuasi sewaktu-waktu apabila terjadi peningkatan debit air secara tiba-tiba.

Kepala Pelaksana BPBD Bali, Teja, menyampaikan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, TNI/Polri, serta relawan untuk melakukan proses evakuasi warga terdampak. Hingga pukul 15.30 WITA, sebanyak 350 warga telah berhasil dievakuasi dan ditempatkan di lokasi pengungsian sementara.

Selain proses evakuasi, BPBD Bali juga masih melakukan pendataan terhadap bangunan yang mengalami kerusakan maupun yang terendam banjir akibat hujan yang terjadi tanpa henti. Teja menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat laporan korban jiwa maupun korban hilang akibat cuaca ekstrem tersebut. Kondisi cuaca dalam tiga hari terakhir juga dilaporkan masih dalam keadaan terkendali.

“Sebagian besar kejadian bersifat lokal dan sudah dapat ditangani. Beberapa titik masih dalam proses penanganan dan terus kami monitor secara berkala,” ujarnya.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan turut menjadi faktor yang membantu meminimalisir dampak genangan. Menurut Teja, volume sampah di sebagian besar lokasi terdampak relatif sedikit, sehingga membantu mengurangi potensi penyumbatan saluran air dan mempercepat proses surutnya genangan.

“Di sebagian besar lokasi terdampak, volume sampah relatif sedikit. Hal ini membantu meminimalkan dampak genangan,” pungkasnya.

Sejumlah Wisatawan Dievakuasi, Aktivitas Pariwisata Terdampak

Selain berdampak pada permukiman warga, banjir juga merendam sejumlah kawasan strategis di wilayah pariwisata Bali. Salah satunya terjadi di Jalan Dewi Sri, Legian, Kuta, Kabupaten Badung. Sejak Selasa dini hari sekitar pukul 04.00 WITA, air mulai meninggi hingga menutup hampir seluruh badan jalan.

Ketinggian genangan yang mencapai pinggang orang dewasa membuat akses dari arah utara dan selatan terputus total karena tidak dapat dilalui kendaraan. Hingga siang hari, kondisi kawasan tersebut masih dilaporkan tergenang.

“Hujan deras sejak sekitar pukul 03.00 pagi sudah mulai naik airnya. Hujan tidak berhenti-berhenti,” ujar seorang warga Kuta, Made, saat ditemui di lokasi.

Curah hujan tinggi yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut turut berdampak pada sektor pariwisata. Sejumlah wisatawan yang sedang berlibur di Bali terdampak banjir dan terpaksa menerjang genangan air untuk keluar dari tempat menginap.

Beberapa wisatawan asing juga dilaporkan harus dievakuasi dari lokasi terdampak banjir. Salah satunya Hugo Rodriguez, turis asal Meksiko, yang mengaku awalnya datang ke Bali untuk menikmati suasana liburan. Namun, kondisi cuaca ekstrem mengubah rencana perjalanan mereka.

“Kami datang untuk menikmati Bali, tetapi semuanya berubah karena hujan. Kami sempat berencana ke pantai hanya untuk melihat-lihat,” ujarnya.

Banjir juga dilaporkan terjadi di sejumlah titik lain, termasuk Jalan Campuhan, Jalan Dewi Sri IV, Grand Dewi Sri, dan Jalan Nakula V di kawasan Kuta. Pengendara terpaksa memutar arah karena akses menuju Imam Bonjol, Sunset Road, dan Jalan Raya Kuta tidak dapat dilalui melalui jalur Dewi Sri.

Tidak hanya di Kuta, genangan juga terjadi di Jalan Bumiayu, Sanur, Denpasar. Sejumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang menginap di kawasan tersebut turut terdampak akibat banjir yang merendam permukiman sejak Minggu (22/2) malam.

Lima Penerbangan Terdampak Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem yang melanda Bali juga berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Hingga pukul 15.30 WITA pada Selasa, tercatat sebanyak lima penerbangan mengalami gangguan akibat kondisi cuaca buruk.

Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, menjelaskan bahwa pihak pengelola bandara terus berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk BMKG dan AirNav Indonesia, guna memantau perkembangan cuaca di area bandara.

“PT Angkasa Pura Indonesia selaku pengelola bandara senantiasa melakukan koordinasi dengan BMKG dan AirNav Indonesia untuk memastikan keselamatan dan keamanan penumpang dalam keberlangsungan operasional bandara,” ujarnya.

Dari lima penerbangan yang terdampak, dua di antaranya merupakan penerbangan kedatangan dan tiga lainnya penerbangan keberangkatan.

Untuk penerbangan kedatangan, maskapai Cebu Pacific dengan nomor penerbangan 5J 281 rute Manila–Denpasar dialihkan ke Makassar pada pukul 00.12 WITA dan baru mendarat di Bandara Ngurah Rai pada pukul 05.40 WITA. Selain itu, penerbangan Indonesia AirAsia nomor QZ 247 rute Phuket–Denpasar juga dialihkan ke Jakarta pada pukul 01.05 WITA sebelum akhirnya mendarat di Denpasar pada pukul 07.02 WITA.

Sementara itu, tiga penerbangan keberangkatan yang terdampak terdiri dari Cebu Pacific rute Denpasar–Manila, Transnusa rute Denpasar–Lombok, dan Wings Air rute Denpasar–Lombok. Ketiganya mengalami penjadwalan ulang (rescheduled) sebagai dampak dari kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Penyeberangan Sanur–Nusa Penida Terdampak Cuaca Ekstrem

Dampak cuaca ekstrem di Bali tidak hanya dirasakan di daratan dan sektor penerbangan, tetapi juga pada jalur transportasi laut. Aktivitas penyeberangan fast boat dari Nusa Penida, Klungkung menuju Sanur, Denpasar, turut terdampak akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Sistem buka-tutup penyeberangan Sanur–Nusa Penida diberlakukan pada Selasa sebagai langkah antisipatif demi keselamatan penumpang dan awak kapal.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Nusa Penida, Ni Luh Putu Eka Suyasmin, menjelaskan bahwa penutupan sempat dilakukan pada pukul 08.30 WITA. Penyeberangan kembali dibuka saat kondisi cuaca mulai membaik pada siang hari.

Namun, beberapa jam kemudian, penyeberangan kembali dihentikan sejak pukul 15.00 WITA. “Kami menerapkan sistem buka-tutup tergantung kondisi cuaca di Pelabuhan Nusa Penida dan pelabuhan tujuan,” ujar Eka Suyasmin.

Penutupan dilakukan karena jalur pelayaran diterjang hujan disertai angin kencang. Selain itu, kabut tebal juga dilaporkan mengurangi jarak pandang, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan penyeberangan secara aman.

Sementara itu, penyeberangan fast boat dari Pelabuhan Rakyat Padangbai, Kabupaten Karangasem, menuju Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat, juga sempat ditutup pada Selasa pagi akibat cuaca ekstrem. Layanan tersebut kini telah kembali beroperasi normal seiring membaiknya kondisi cuaca.

Respons Gubernur Bali Terkait Banjir

Gubernur Bali, Wayan Koster, turut merespons banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada Selasa (24/2). Menurutnya, banjir terjadi akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama tiga hari terakhir tanpa henti.

“Kondisi hujan sejak Sabtu lalu terjadi terus-menerus. Dari pagi hingga malam, lalu berlanjut hingga dini hari,” ujar Koster saat ditemui di Kantor Gubernur Bali.

Ia menyampaikan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan penanganan di berbagai titik terdampak dan secara umum kondisi mulai terkendali. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Koster juga mengingatkan warga agar membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama perjalanan jauh yang melewati jalur atau kawasan rawan banjir.

“Jika tidak terlalu penting, sebaiknya hindari bepergian jauh, apalagi melalui daerah yang rawan banjir,” tegasnya.