Setelah menerima daging kurban saat Idul Adha, banyak orang langsung menyimpannya begitu saja di kulkas atau freezer. Padahal, cara penanganan yang kurang tepat bisa membuat daging cepat rusak dan berbau.
Agar kualitas daging tetap segar dan tahan lebih lama, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan sejak pertama kali menerima daging kurban.
Momen Idul Adha identik dengan pembagian daging kurban kepada masyarakat dalam jumlah cukup banyak.
Daging sapi maupun kambing biasanya langsung diolah menjadi berbagai hidangan khas seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng untuk disantap bersama keluarga.
Namun, tanpa penanganan yang benar, daging kurban dapat lebih cepat mengalami penurunan kualitas.
Mulai dari muncul bau tidak sedap, tekstur menjadi alot saat dimasak, hingga risiko daging lebih cepat basi.
Meski terlihat sederhana, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan setelah menerima daging kurban.
Mulai dari cara membersihkan, membungkus, hingga menyimpan daging memiliki pengaruh besar terhadap kualitas dan daya tahan daging.
Banyak orang langsung memasukkan daging ke kulkas tanpa penanganan awal yang benar.
Padahal, metode penyimpanan yang tepat dapat membantu menjaga tekstur, rasa, dan aroma daging agar tetap segar lebih lama.
Kesalahan dalam proses penyimpanan justru dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan membuat daging lebih mudah rusak.
Daging kurban sebaiknya tetap dibersihkan sebelum disimpan atau dimasak untuk menghilangkan sisa darah, serpihan tulang, debu, maupun kotoran yang menempel selama proses distribusi.
Namun, proses pencucian perlu dilakukan dengan benar agar tidak memicu kontaminasi silang di area dapur.
Chef Degan Septoadji dan Chef Stefu Santoso menyarankan agar daging dicuci menggunakan air mengalir secukupnya serta menghindari percikan air berlebihan ke meja dapur atau peralatan masak lainnya.
Setelah dicuci, daging sebaiknya langsung ditiriskan hingga tidak terlalu basah sebelum disimpan.
Kelembapan berlebih dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan membuat kualitas daging lebih cepat menurun.
Daging yang terlalu lama berada di suhu ruang lebih mudah terkontaminasi mikroba dan mengalami penurunan kualitas.
Karena itu, banyak ahli pangan menyarankan agar daging segera dipotong sesuai porsi lalu disimpan di freezer.
Suhu penyimpanan sangat memengaruhi daya tahan daging kurban.
Pada kulkas biasa dengan suhu sekitar 4 derajat Celsius, daging umumnya hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga hari dalam kondisi segar.
Sementara jika disimpan di freezer dengan suhu di bawah minus 18 derajat Celsius dan kondisi stabil, daging kurban dapat bertahan hingga satu sampai dua bulan.
Salah satu tantangan saat mengolah daging kurban, terutama daging kambing, adalah aroma prengus yang cukup kuat.
Untuk mengatasinya, banyak orang menggunakan bahan alami seperti jahe, nanas, atau pepaya muda sebagai bahan marinasi.
Jahe dikenal mampu membantu mengurangi bau amis sekaligus memberikan aroma hangat pada daging.
Sementara pepaya muda mengandung enzim papain yang dapat membantu memecah serat daging sehingga teksturnya menjadi lebih empuk saat dimasak.
Daging dapat dilumuri parutan jahe atau dibungkus menggunakan daun pepaya sekitar 15 hingga 30 menit sebelum dimasak.
Namun, proses marinasi sebaiknya tidak dilakukan terlalu lama karena dapat membuat tekstur daging menjadi terlalu lembek.
Saat menerima daging kurban, banyak orang langsung mencampur seluruh bagian daging ke dalam satu kantong penyimpanan.
Padahal, cara tersebut kurang ideal untuk penyimpanan jangka panjang.
Daging, tulang, dan jeroan memiliki karakteristik berbeda sehingga sebaiknya dipisahkan sejak awal agar kualitas masing-masing tetap terjaga.
Jeroan misalnya, cenderung lebih cepat rusak dan memiliki aroma yang lebih kuat dibanding daging biasa.
Daging juga sebaiknya disimpan dalam porsi kecil menggunakan kantong atau wadah terpisah.
Cara ini memudahkan saat akan digunakan karena hanya bagian yang diperlukan saja yang dikeluarkan dari freezer.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah mencairkan daging beku terlalu lama di suhu ruang.
Cara tersebut memang lebih cepat, tetapi dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri karena bagian luar daging mulai hangat sementara bagian dalamnya masih membeku.
Metode yang lebih dianjurkan adalah memindahkan daging dari freezer ke chiller semalaman sebelum dimasak.
Cara ini membantu menjaga tekstur dan rasa alami daging tetap baik.
Jika ingin lebih cepat, daging dapat direndam menggunakan air dingin dalam kondisi masih terbungkus rapat agar tidak terpapar langsung oleh air.
Proses beku-cair berulang kali juga sebaiknya dihindari karena dapat merusak tekstur daging dan meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.
Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.
Temukan berbagai artikel menarik yang dapat menambah wawasan dan inspirasi Anda.
Isi data berikut untuk mengunduh brochure produk.
Data digunakan untuk keperluan follow-up teknis & penawaran.