Anugerah Viktorindo Abadi

Pameran “Ghost in the Cell” Hadirkan Instalasi Seni Gelap dan Visual Sinematik

pameran ghost in the cell jakarta

Ilustrator dan seniman visual yang terlibat dalam proyek instalasi film Ghost in the Cell berharap karya seni rupa dapat lebih banyak hadir dalam industri perfilman Indonesia.

Kolaborasi antara dunia seni visual dan perfilman dinilai mampu membuka ruang kreatif baru sekaligus memperluas apresiasi terhadap karya instalasi dan seni kontemporer.

Pameran Instalasi Film Digelar di Jakarta

Harapan tersebut disampaikan dalam pameran bertajuk “Macabre Art Installation: Ghost in the Cell” yang digelar di Jakarta Selatan.

Salah satu pembuat instalasi, Rudy Ao, mengatakan penggunaan karya seni rupa dalam film dapat menjadi wadah baru bagi para seniman visual untuk menampilkan karya mereka kepada publik yang lebih luas.

Rudy yang dikenal sebagai seniman konsep visual dan pernah bekerja untuk DC Comics mengungkapkan bahwa proyek ini menjadi pengalaman pertamanya membuat karya instalasi khusus untuk kebutuhan film.

Ia dipercaya mengerjakan instalasi berjudul “Human Stove” berdasarkan konsep visual yang disiapkan oleh sutradara sekaligus penulis skenario film Ghost in the Cell, Joko Anwar.

Direkrut Lewat Media Sosial

Rudy menjelaskan dirinya pertama kali dihubungi setelah karya-karyanya ditemukan melalui media sosial.

Menurutnya, Joko Anwar mencari seniman dengan gaya visual tertentu untuk mendukung atmosfer film yang sedang dikembangkan.

“Awalnya karya saya ditemukan lewat Instagram, lalu akhirnya dihubungi langsung untuk proyek ini,” ujar Rudy.

Konsep Visual Film Dinilai Menantang

Rudy Ao mengaku sempat terkejut ketika pertama kali mendengar konsep visual yang diinginkan untuk film Ghost in the Cell.

Ia menilai pendekatan visual yang disiapkan memiliki nuansa gelap, kasar, dan cukup ekstrem dibanding proyek seni yang biasa ia kerjakan sebelumnya.

Meski demikian, Rudy justru merasa tertarik karena proyek tersebut memberinya ruang untuk bereksperimen dan mengeksplorasi ide visual yang berbeda.

“Saya justru senang karena proyek ini menjadi tantangan baru untuk eksplorasi visual,” katanya.

FOTO: Instalasi Macabre Art Pamerkan Sisi Tragis ‘Ghost in the Cell’

Harap Seni Instalasi Makin Dilirik

Rudy berharap penggunaan karya instalasi dan seni rupa dalam film Indonesia bisa semakin berkembang di masa mendatang.

Ia menilai kolaborasi antara sineas dan seniman visual dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni rupa kontemporer.

Kolaborasi Seni dan Film Dinilai Menjanjikan

Ilustrator Corrupted Lady Justice, Anwita Citriya, juga menilai penggabungan karya seni visual dengan industri perfilman memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia.

Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat membuka peluang baru bagi para ilustrator dan seniman visual untuk menampilkan karya mereka dalam medium yang lebih luas.

“Potensinya besar sekali dan menurut saya ini sesuatu yang sangat menjanjikan,” ujar Anwita.

Seniman Diberi Kebebasan Berkreasi

Dalam proyek Ghost in the Cell, Anwita mengatakan para ilustrator diberikan kebebasan untuk mengembangkan interpretasi visual masing-masing berdasarkan karakter dan naskah film.

Menurutnya, sutradara hanya memberikan gambaran dasar terkait karakter, sementara pendekatan artistik diserahkan sepenuhnya kepada para seniman.

“Kami diberikan gambaran karakter dan cerita, tetapi interpretasi visualnya dikembangkan sendiri oleh ilustrator,” jelasnya.

Dorong Kolaborasi Film dan Seni Rupa

Anwita berharap semakin banyak film Indonesia yang melibatkan seniman visual dan ilustrator dalam proses kreatif produksi.

Kolaborasi tersebut dinilai mampu menghadirkan pengalaman visual yang lebih unik sekaligus memperluas apresiasi publik terhadap karya seni kontemporer.

SUMBER

ANTARA News

Konsultasi & Penyesuaian Sistem

Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.