Anugerah Viktorindo Abadi

Belanda Karantina 12 Staf Medis Usai Dugaan Pelanggaran Protokol Hantavirus

belanda karantina staf medis hantavirus

Sebuah rumah sakit di Belanda mengarantina 12 anggota staf medis setelah terjadi pelanggaran protokol kesehatan dalam penanganan sampel virus hantavirus.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran wabah yang sebelumnya dikaitkan dengan kasus di kapal pesiar mewah MV Hondius.

Rumah Sakit Radboudumc di Kota Nijmegen menyatakan bahwa para staf medis tersebut akan menjalani masa karantina selama enam minggu.

Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan risiko penularan kepada masyarakat tergolong rendah dan layanan medis tetap berjalan normal.

Penanganan Sampel Diduga Tidak Sesuai Prosedur

Pihak rumah sakit menjelaskan insiden bermula saat sampel darah dan urine pasien diterima tanpa mengikuti prosedur penanganan khusus untuk kasus hantavirus.

Akibatnya, sejumlah tenaga medis yang terlibat dalam proses pemeriksaan harus menjalani pemantauan kesehatan sebagai langkah antisipasi.

Menteri Kesehatan Belanda, Sophie Hermans, mengatakan prosedur dasar sebenarnya telah dijalankan, namun belum mengikuti standar paling ketat yang berlaku untuk penanganan virus hantavirus.

“Prosedur yang dilakukan telah sesuai standar umum, tetapi belum memenuhi protokol khusus untuk kasus hantavirus,” ujarnya dalam penjelasan kepada parlemen.

WHO Pantau Perkembangan Wabah

Hermans menegaskan keputusan karantina diambil sebagai langkah pencegahan karena pengetahuan terkait virus hantavirus masih terus dipelajari.

Meski demikian, pemerintah Belanda menilai situasi saat ini berbeda dibanding masa awal pandemi Covid-19.

“Dengan pengetahuan yang dimiliki saat ini serta langkah yang telah diambil, kami yakin situasi dapat dikendalikan,” kata Hermans.

WHO Konfirmasi Total Kasus

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi total terdapat sembilan kasus dalam wabah hantavirus yang tengah dipantau secara internasional.

WHO menyebut virus ini umumnya tidak mudah menular antarmanusia, kecuali melalui kontak yang sangat dekat.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kemungkinan penambahan kasus masih dapat terjadi mengingat masa inkubasi virus yang cukup panjang.

Menurutnya, interaksi intens antarpenumpang sebelum virus terdeteksi diduga menjadi salah satu penyebab munculnya sejumlah kasus tambahan.

Sejauh ini, wabah tersebut dilaporkan telah menyebabkan tiga orang meninggal dunia sejak pertama kali terdeteksi.

Belum Ada Tanda Wabah Besar

WHO menilai belum ada tanda-tanda wabah berkembang menjadi krisis kesehatan global yang lebih luas.

Namun, otoritas kesehatan internasional tetap melakukan pemantauan ketat untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi.

“Untuk saat ini belum terlihat adanya wabah yang lebih besar, tetapi situasinya masih bisa berubah,” ujar Tedros.

Ujian Sistem Kesehatan Pascapandemi

Kasus hantavirus ini juga dinilai menjadi ujian bagi koordinasi kesehatan internasional pascapandemi Covid-19.

Pakar epidemiologi dari Institut Pasteur Prancis, Arnaud Fontanet, menilai penelusuran kontak kemungkinan berlangsung cukup panjang karena masa inkubasi virus yang dapat mencapai beberapa minggu.

“Situasi ini menjadi kesempatan penting untuk menguji sistem koordinasi kesehatan internasional yang dibangun setelah pandemi Covid-19,” katanya.

Sempat Terkendala Pasokan Air

Selain menghadapi potensi ledakan dan paparan bahan kimia, petugas juga sempat mengalami kendala pasokan air saat proses pemadaman berlangsung.

Meski demikian, hambatan tersebut berhasil diatasi sehingga proses pemadaman dapat terus dilakukan secara maksimal.

“Kami sempat terkendala pasokan air, namun saat ini suplai air sudah tersedia dari sisi selatan,” ujar Syafiul.

SUMBER

CNBC Indonesia

Konsultasi & Penyesuaian Sistem

Butuh solusi yang tepat untuk kebutuhan Anda? Tim AVA siap membantu dengan rekomendasi terbaik.